Sejarah
Peradaban Islam di
Spanyol (Andalusia) dan Pengaruhnya Terhadap Renaisans di Eropa
BAB I
PENDAHULUAN
Setelah berakhirnya periode klasik
Islam, ketika Islam mulai memasuki masa kemunduran, Eropa bangkit dari
keterbelakangannya. Kebangkitan itu bukan saja terlihat dalam bidang politik
dengan keberhasilan Eropa mengalahkan kerajaan-kerajaan Islam dan bagian dunia
lainnya, tetapi terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahkan,
kemajuan dalam bidang ilmu dan teknologi itulah yang mendukung keberhasilan
politiknya. Kemajuan-kemajuan Eropa ini tidak bisa dipisahkan dari pemerintahan
Islam di Spanyol. Dari Spanyol Islamlah Eropa banyak menimba ilmu. Pada periode
klasik, ketika Islam mencapai masa sangat penting, menyaingi Baghdad di Timur.
Ketika itu, orang-orang Eropa Kristen banyak belajar di perguruan-perguruan
tinggi Islam di sana. Islam menjadi “guru” bagi orang Eropa. Karena itu,
kehadiran Islam di Spanyol banyak menarik perhatian para sejarawan.
BAB II
PEMBAHASAN
“ISLAM DI SPANYOL (ANDALUSIA) DAN PENGARUHNYA
TERHADAP RENAISANS DI EROPA”
A.
Masuknya Islam Ke Spanyol
Islam pertama kali
masuk ke Spanyol pada tahun 711 M melalui jalur Afrika Utara. Spanyol
sebelum kedatangan Islam dikenal dengan nama Iberia/ Asbania, kemudian
disebut Andalusia, ketika negeri subur itu dikuasai bangsa Vandal. Dari
perkataan Vandal inilah orang Arab menyebutnya Andalusia.
[1]
Sebelum
penaklukan Spanyol, umat Islam telah menguasai Afrika Utara dan
menjadikannya sebagai salah satu provinsi dari dinasti Bani Umayah.
Penguasaan sepenuhnya atas Afrika Utara itu terjadi di zaman Khalifah
Abdul Malik (685-705 M). Khalifah Abd al-Malik mengangkat Hasan ibn
Nu’man al-Ghassani menjadi gubernur di daerah itu. Pada masa Khalifah
al-Walid, Hasan ibn Nu’man sudah digantikan oleh Musa ibn Nushair. Di
zaman al-Walid itu, Musa ibn Nushair memperluas wilayah kekuasaannya
dengan menduduki Aljazair dan Maroko. Selain itu, ia juga menyempurnakan
penaklukan ke daerah-daerah bekas kekuasaan bangsa Barbar di
pegunungan-pegunungan. Penaklukan atas wilayah Afrika Utara itu dari
pertama kali dikalahkan sampai menjadi salah satu provinsi dari Khalifah
Bani Umayah memakan waktu selama 53 tahun, yaitu mulai tahun 30 H (masa
pemerintahan Muawiyah ibn Abi Sufyan) sampai tahun 83 H (masa
al-Walid). Sebelum dikalahkan dan kemudian dikuasai Islam, dikawasan ini
terdapat kantung-kantung yang menjadi basis kekuasaan kerajaan Romawi,
yaitu kerajaan Gotik.
Dalam
proses penaklukan Spanyol terdapat tiga pahlawan Islam yang dapat
dikatakan paling berjasa memimpin satuan-satuan pasukan ke sana. Mereka
adalah Tharif ibn Malik, Tharik ibn Ziyad, dan Musa ibn Nushair. Tharif
dapat disebut sebagai perintis dan penyelidik. Ia menyeberangi selat
yang berada diantara Maroko dan benua Eropa itu dengan satu pasukan
perang lima ratus orang di antaranya adalah tentara berkuda, mereka
menaiki empat buah kapal yang disediakan oleh Julian. Ia menang dan
kembali ke Afrika Utara membawa harta rampasan yang tidak sedikit
jumlahnya. Didorong oleh keberhasilan Tharif dan kemelut yang terjadi
dalam tubuh kerajaan Visigothic yang berkuasa di Spanyol pada saat itu,
serta dorongan yang besar untuk memperoleh harta rampasan perang, Musa
ibn Nushair pada tahun 711 M mengirim pasukan ke Spanyol sebanyak 7000
orang di bawah pimpinan Thariq ibn Ziyad.
Thariq
ibn Ziyad lebih banyak dikenal sebagai penaklukan Spanyol karena
pasukannya lebih besar dan hasilnya lebih nyata. Pasukannya terdiri dari
sebagian besar suku Barbar yang didukung oleh Musa ibn Nushair dan
sebagian lagi orang Arab yang dikirim Khalifah al-Walid. Pasukan itu
kemudian menyeberangi selat di bawah pimpinan Thariq ibn Ziyad. Sebuah
gunung tempat pertama kali Thariq dan pasukannya mendarat dan menyiapkan
pasukannya, dikenal dengan nama Gibraltar (Jabal Thariq). Dalam
pertempuran di Bakkah, Raja Roderick dapat dikalahkan. Dari situ seperti
Cordova, Granada dan Toledo (Ibu kota kerajaan Goth saat itu).
[2]
Kebudayaan islam memasuki Eropa melalui beberapa jalan, antara lain
melewati Andalusia. Ini karena kaum muslimin telah menetap di negeri itu
sekitar abad 8 abad lamanya. Pada masa itu kebudayaan Islam di negeri
itu mencapai puncak perkembangannya. Kebudayaan Islam di Andalusia
mengalami perkembangan yang pesat diberbagai pusatnya, misalnya Cordova,
Sevilla, Granada, dan Toledo.
[3]
[1] Perpustakaan Nasional : Katalog Dalam Terbitan(KDT), Ensiklopedi Mini
Sejarah dan Kebudayaan Islam, Logos Wacana Ilmu, Jakarta 1996.
[2] Dr, Badri Yatim, M.A, Sejarah Peradaban Islam, PT: Gravindo Persada
: 2003, hlm. 89.
[3] Abdul Mun’im Majid, Sejarah Kebudayaan Islam, Pustaka : 1997 hlm.
182.
Kemenangan pertama yang dicapai
oleh Thariq ibn Ziyad membuka jalan untuk penaklukan wilayah yang lebih
luas lagi. Selanjutnya, keduanya berhasil menguasai seluruh kota
penting di Spanyol, termasuk bagian utaranya mulai dari Saragosa sampai
Navarre.
Gelombang perluasan wilayah berikutnya
muncul pada masa pemerintahan Khalifah Umar ibn Abdil Aziz tahun 99
H/717 M, dengan sasarannya menguasai daerah sekitar pegunungan Pyrenia
dan Prancis Selatan. Gelombang kedua terbesar dari penyerbuan kaum
muslimin yang geraknya dimulai pada permulaan abad ke-8 M ini, telah
menjangkau seluruh Spanyol dan melebar jauh ke Prancis Tengah dan
bagian-bagian penting dari Italia.
Kemenangan-kemenangan
yang dicapai umat Islam nampak begitu mudah. Hal itu tidak dapat
dipisahkan dari adanya faktor eksternal dan internal.
Faktor
eksternalnya antara lain pada masa penaklukan Spanyol oleh orang-orang
Islam, kondisi sosial, politik, dan ekonomi negeri ini berada dalam
keadaan yang menyedihkan.
[1] Begitu
juga dengan adanya perebutan kekuasaan di antara elite pemerintahan,
adanya konflik umat beragama yang menghancurkan kerukunan dan toleransi
di antara mereka.
[2] Kondisi terburuk
terjadi pada masa pemerintahan Raja Roderick, raja terakhir yang
dikalahkan Islam. Awal kehancuran Ghot adalah ketika Raja Roderick
memindahkan ibu kota negaranya dari Seville ke Toledo, sementara Witiza
yang saat itu menjadi penguasa atas wilayah Toledo diberhentikan begitu
saja.
Hal yang menguntungkan tentara Islam
lainnya adalah bahwa tentara Roderick yang terdiri dari para budak yang
tertindas tidak lagi mempunyai semangat perang. Selain itu orang Yahudi
yang selama ini tertekan juga telah mengadakan persekutuan dan
memberikan bantuan bagi perjuangan kaum Muslimin.
Adapun
faktor internalnya yaitu suatu kondisi yang terdapat dalam tubuh
penguasa, tokoh-tokoh perjuangan dan para prajurit Islam yang terlibat
dalam penaklukan wilayah Spanyol pada khususnya. Para pemimpin adalah
tokoh-tokoh yang kuat, tentaranya kompak, bersatu dan penuh percaya
diri. Sikap toleransi agama dan persaudaraan yang terdapat dalam pribadi
kaum muslimin itu menyebabkan penduduk Spanyol menyambut kehadiran
Islam di sana.
A. Perkembangan Islam Di Spanyol Sejarah panjang yang dilalui umat Islam di Spanyol itu dibagi menjadi enam periode yaitu
[3] :
1.
Periode Pertama (711-755 M) Pada periode ini, Spanyol berada di
bawah pemerintahan para wali yang diangkat oleh Khalifah Bani Umayah
yang terpusat di Damaskus. Pada periode ini stabilitas politik negeri
Spanyol belum tercapai secara sempurna, gangguan-gangguan masih terjadi,
baik dari dalam maupun dari luar. Gangguan dari dalam antara lain
berupa perselisihan di antara elite penguasa, terutama akibat perbedaan
etnis dan golongan. Di samping itu, terdapat perbedaan pandangan antara
Khalifah di Damaskus dan gubernur Afrika Utara yang berpusat di
Kairawan. Masing-masing mengaku bahwa merekalah yang paling berhak
menguasai daerah Spanyol ini. Oleh karena itu, terjadi dua puluh kali
pergantian wali (gubernur) Spanyol dalam jangka waktu yang amat singkat.
Perbedaan pandangan politik itu menyebabkan seringnya terjadi perang
saudara. Hal ini ada hubungannya dengan perbedaan etnis, terutama antara
Barbar asal Afrika Utara dan Arab. Di dalam etnis Arab sendiri terdapat
dua golongan yang terus-menerus bersaing yaitu suku Qaisy (Arab Utara)
dan Arab Yamani (Arab Selatan). Perbedaan etnis ini sering kali
menimbulkan konflik politik, terutama ketika tidak ada figur
[1] Dr, Badri Yatim, M.A, PT. Gravindo Persada : 2003, hlm. 91
[2] Katalog Dalam Terbitan (KDT), Ensiklopedi Mini Sejarah dan Kebuidayaan Islam, Logos Wacana Ilmu Jakarta 1996
[3] Dr, Badri Yatim, M.A, Sejarah Peradaban Islam, PT: Gravindo Persada : 2003, hlm 93
yang
tangguh. Itulah sebabnya di Spanyol pada saat itu tidak ada gubernur
yang mampu mempertahankan kekuasaannya untuk jangka waktu yang agak
lama. Periode ini berakhir dengan datangnya Abd al-Rahman Al-Dakhil ke
Spanyol pada tahun 138 H/755 M.
1. Periode Kedua (755-912 M) Pada
periode ini, Spanyol berada di bawah pemerintahan seorang yang bergelar
amir (panglima atau gubernur) tetapi tidak tunduk kepada pusat
pemerintahan Islam, yang ketika itu dipegang oleh Khalifah Abbasiyah di
Baghdad. Amir pertama adalah Abdurrahman I yang memasuki Spanyol tahun
138 H/755 M dan diberi gelar Al-Dakhil (yang masuk ke Spanyol). Ia
berhasil mendirikan dinasti Bani Umayyah di Spanyol. Penguasa-penguasa
Spanyol pada periode ini adalah Abd al-Rahman al-Dakhil, Hisyam I, Hakam
I, Abd al-Rahman al-Ausath, Muhammad ibn Abd al-Rahman, Munzir ibn
Muhammad, dan Abdullah ibn Muhammad.
Pada periode
ini, umat Islam Spanyol mulai memperoleh kemajuan-kemajuan baik dibidang
politik maupun bidang peradaban. Abd al-Rahman al-Dakhil mendirikan
masjid Cordova dan sekolah-sekolah di kota-kota besar Spanyol. Hisyam
dikenal sebagai pembaharu dalam bidang kemiliteran. Dialah yang
memprakarsai tentara bayaran di Spanyol. Sedangkan Abd al-Rahman
al-Ausath dikenal sebagai penguasa yang cinta ilmu. Pemikiran filsafat
juga mulai pada periode ini, terutama di zaman Abdurrahman al-Ausath.
Pada
pertengahan abad ke-9 stabilitas negara terganggu dengan munculnya
gerakan Kristen fanatik yang mencari kesahidan (Martyrdom).
Gangguan
politik yang paling serius pada periode ini datang dari umat Islam
sendiri. Golongan pemberontak di Toledo pada tahun 852 M membentuk
negara kota yang berlangsung selama 80 tahun. Di samping itu sejumlah
orang yang tak puas membangkitkan revolusi. Yang terpenting diantaranya
adalah pemberontakan yang dipimpin oleh Hafshun dan anaknya yang
berpusat di pegunungan dekat Malaga. Sementara itu, perselisihan antara
orang-orang Barbar dan orang-orang Arab masih sering terjadi
[1].
Namun ada yang berpendapat pada periode ini dibagi menjadi dua yaitu masa KeAmiran (755-912) dan masa ke Khalifahan (912-1013).
[2] 2. Periode Ketiga (912-1013 M) Periode
ini berlangsung mulai dari pemerintahan Abd al-Rahman III yang bergelar
“An-Nasir” sampai munculnya “raja-raja kelompok” yang dikenal dengan
sebutan Muluk al-Thawaif. Pada periode ini Spanyol diperintah oleh
penguasa dengan gelar Khalifah, penggunaan khalifah tersebut bermula
dari berita yang sampai kepada Abdurrahman III, bahwa Muktadir, Khalifah
daulah Bani Abbas di Baghdad meninggal dunia dibunuh oleh pengawalnya
sendiri. Menurut penilainnya, keadaan ini menunjukkan bahwa suasana
pemerintahan Abbasiyah sedang berada dalam kemelut. Ia berpendapat bahwa
saat ini merupakan saat yang tepat untuk memakai gelar khalifah yang
telah hilang dari kekuasaan Bani Umayyah selama 150 tahun lebih. Karena
itulah gelar ini dipakai mulai tahun 929 M. Khalifah-khalifah besar yang
memerintah pada periode ini ada tiga orang yaitu Abd al-Rahman al-Nasir
(912-961 M), Hakam II (961-976 M), dan Hisyam II (976-1009 M).
Pada
periode ini umat Islam Spanyol mencapai puncak kemajuan dan kejayaan
menyaingi kejayaan daulat Abbasiyah di Baghdad. Abd al-Rahman al-Nasir
mendirikan universitas Cordova.
Akhirnya pada tahun
1013 M, Dewan Menteri yang memerintah Cordova menghapuskan jabatan
khalifah. Ketika itu Spanyol sudah terpecah dalam banyak sekali negara
kecil yang berpusat di kota-kota tertentu.
3. Periode Keempat (1013-1086 M) [1] Dr.Badri Yatim, M.A, Sejarah Peradaban Islam, PT: Gravindo Persada : 2003, hlm 95
[2] Prof. Dr. Hj. Musyrifah Sunanto,sejarah islam klasik, Jakarta Timur, Penada Media:2003, hlm 119
Pada
periode ini, Spanyol terpecah menjadi lebih dari tiga puluh negara
kecil di bawah pemerintahan raja-raja golongan atau Al-Mulukuth-Thawaif
yang berpusat di suatu kota seperti Seville, Cordova, Toledo dan
sebagainya. Yang terbesar diantaranya adalah Abbadiyah di Seville. Pada
periode ini umat Islam memasuki masa pertikaian intern. Ironisnya, kalau
terjadi perang saudara, ada di antara pihak-pihak yang bertikai itu
yang meminta bantuan kepada raja-raja Kristen. Melihat kelemahan dan
kekacauan yang menimpa keadaan politik Islam itu, untuk pertama kalinya
orang-orang Kristen pada periode ini mulai mengambil inisiatif
penyerangan. Meskipun kehidupan politik tidak stabil, namun kehidupan
intelektual terus berkembang pada periode ini. Istana-istana mendorong
para sarjana dan sastrawan untuk mendapatkan perlindungan dari satu
istana ke istana lain.
1. Periode Kelima (1086-1248 M) Pada
periode ini Spanyol Islam meskipun masih terpecah dalam beberapa
negara, tetapi terdapat satu kekuatan yang dominan, yaitu kekuasaan
dinasti Murabithun (1086-1143 M) dan dinasti Muwahhidun (1146-1235 M).
Dinasti Murabithun pada mulanya adalah sebuah gerakan agama yang
didirikan oleh Yusuf ibn Tasyfin di Afrika Utara. Pada tahun 1062 M ia
berhasil mendirikan sebuah kerajaan yang berpusat di Marakesy. Pada masa
dinasti Murabithun, Saragosa jatuh ke tangan Kristen, tepatnya tahun
1118 M.
Dinasti Muwahhidun didirikan oleh Muhammad
ibn Tumazi (w.1128). Dinasti ini datang ke Spanyol di bawah pimpinan Abd
al-Mun’im. Pada tahun 1212 M, tentara Kristen memperoleh kemenangan
besar di Las Navas de Tolesa. Kekalahan-kekalahan yang dialami
Muwahhhidun menyebabkan penguasanya memilih meninggalkan Spanyol dan
kembali ke Afrika Utara tahun 1235 M. Tahun 1238 M Cordova jatuh ke
tangan penguasa Kristen dan Seville jatuh tahun 1248 M. Seluruh Spanyol
kecuali Granada lepas dari kekuasaan Islam.
[1] 2. Periode Keenam (1248-1492 M) Pada
peride ini yaitu antara tahun (1232-1492) ketika umat islam Andalus
bertahan diwilayah Granada dibawah kuasa dinasti bani Amar pendiri
dinasti ini adalah Sultan Muhammad bin Yusuf bergelar Al-Nasr, oleh
karena itu kerajaan itu disebut juga Nasriyyah.
[2] Periode
ini, Islam hanya berkuasa di daerah Granada, di bawah dinasti Bani
Ahmar (1232-1492). Peradaban kembali mengalami kemajuan seperti di zaman
Abdurrahman an-Nasir. Kekuasaan Islam yang merupakan pertahanan
terakhir di Spanyol ini berakhir karena perselisihan orang-orang istana
dalam perebutan kekuasaan. Abu Abdullah Muhammad merasa tidak senang
kepada ayahnya karena menunjuk anaknya yang lain sebagai penggantinya
menjadi raja. Dia memberontak dan berusaha merampas kekuasaannya. Dalam
pemberontakan itu, ayahnya terbunuh dan digantikan oleh Muhammad ibn
Sa’ad. Abu Abdullah kemudian meminta bantuan kepada Ferdenand dan
Isabella untuk menjatuhkannya. Dua penguasa Kristen ini dapat
mengalahkan penguasa yang sah dan Abu Abdullah naik tahta. Tentu saja,
Ferdenand dan Isabella yang mempersatukan kedua kerajaan besar Kristen
melalui perkawinan itu tidak cukup puas. Keduanya ingin merebut
kekuasaan terakhir umat Islam di Spanyol. Abu Abdullah tidak kuasa
menahan serangan-serangan orang Kristen tersebut dan pada akhirnya
mengaku kalah. Ia menyerahkan kekuasaan kepada Ferdenand dan Isabella,
kemudian hijrah ke Afrika Utara. Dengan demikian berakhirlah kekuasaan
Islam di Spanyol tahun 1492 M. Umat Islam setelah itu dihadapkan kepada
dua pilihan, masuk Kristen atau pergi meninggalkan Spanyol. Pada tahun
1609 M, boleh dikatakan tidak ada lagi umat Islam didaerah ini.
[1] Dr.Badri Yatim, M.A, Sejarah Peradaban Islam, PT: Gravindo Persada :
2003, hlm 98
[2] Prof.Dr. Hj. Musyrifah Sunanto,sejarah islam klasik, Jakarta Timur,
Penada Media:2003, hlm 122
A. Kemajuan Peradaban
· Kemajuan Intelektual Spanyol
adalah negara yang subur. Masyarakat Spanyol Islam merupakan masyarakat
majemuk yang terdiri dari komunitas-komunitas Arab (Utara dan Selatan)
al-Muwalladun (orang-orang Spanyol yang masuk Islam), Barbar (umat Islam
yang berasal dari Afrika Utara), al-shaqalibah (penduduk daerah antara
Konstantinopel dan Bulgaria yang menjadi tawanan Jerman dan dijual
kepada penguasa Islam untuk dijadikan tentara bayaran), Yahudi, Kristen
Muzareb yang berbudaya Arab, dan Kristen yang masih menentang kehadiran
Islam. Semua komunitas itu, kecuali yang terakhir memberikan saham
intelektual terhadap terbentuknya lingkungan budaya Andalusia yang
melahirkan kebangkitan ilmiah, sastra, dan pembangunan fisik di Spanyol.
a) Filsafat Islam di
Spanyol telah mencatat satu lembaran budaya yang sangat brilian dalam
bentangan sejarah Islam. Ia berperan sebagai jembatan penyeberangan yang
dilalui ilmu pengetahuan Yunani-Arab ke Eropa pada abad ke-12. minat
terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan mulai dikembangkan pada abad ke-9
M selama pemerintahan penguasa Bani Umayyah yang ke-5, Muhammad ibn Abd
al-Rahman (832-886 M).
Tokoh utama pertama dalam
sejarah filsafat Arab-Spanyol adalah Abu Bakr Muhammad ibn al-Sayigh
yang lebih dikenal dengan Ibn Bajjah. Tokoh utama yang kedua adalah Abu
Bakr ibn Thufail, penduduk asli Wadi Asa, sebuah dusun kecil di sebelah
timur Granada dan wafat pada usia lanjut tahun 1185 M.
Bagian
akhir abad ke-12 M menjadi saksi munculnya seorang pengikut Aristoteles
yang terbesar di gelanggang filsafat dalam Islam, yaitu Rusyd dari
Cordova.
[1] Pada
abad ke 12 diterjemahkan buku Al-Qanun karya Ibnu Sina (Avicenne)
mengenai kedokteran. Diahir abad ke-13 diterjemahkan pula buku Al-Hawi
karya Razi yang lebih luas dan lebih tebal dari Al-Qanun.
[2] b) Sains Abbas
ibn Fama termasyhur dalam ilmu kimia dan astronomi. Ia orang yang
pertama kali menemukan pembuatan kaca dari batu. Ibrahim ibn Yahya
al-Naqqash terkenal dalam ilmu astronomi. Ia dapat menentukan waktu
terjadinya gerhana matahari dan menentukan berapa lamanya. Ia juga
berhasil membuat teropong modern yang dapat menentukan jarak antara tata
surya dan bintang-bintang. Ahad ibn Ibas dari Cordova adalah ahli dalam
bidang obat-obatan. Umi al-Hasan bint Abi Ja’far dan saudara perempuan
al-Hafidzh adalah dua orang ahli kedokteran dari kalangan wanita.
Dalam
bidang sejarah dan geografi, wilayah Islam bagian barat melahirkan
banyak pemikir terkenal. Ibn Jubair dari Valencia (1145-1228 M) menulis
tentang negeri-negeri muslim Mediterania dan Sicilia dan Ibn Bathuthah
dari Tangier (1304-1377 M) mencapai Samudra Pasai dan Cina. Ibn Khaldun
(1317-1374 M) menyusun riwayat Granada, sedangkan Ibn Khaldun dart Tum
adalah perumus filsafat sejarah. Semua sejarawan di atas bertempat
tinggal di Spanyol yang kemudian pindah ke Afrika.
c) Fikih
Dalam bidang fikih, Spanyol dikenal sebagai penganut mazhab Maliki.
Yang memperkenalkan mazhab ini disana adalah Ziyad ibn Abd al-Rahman.
Perkembangan selanjutnya ditentukan oleh Ibn Yahya yang menjadi qadhi
pad masa Hisyam ibn Abd al-
[1] Dr.Badri Yatim, M.A, Sejarah Peradaban Islam, PT: Gravindo Persada : 2003, hlm 101
[2] Dr. Mustafa As-Siba’i,Peradaban Islam Dulu, Kini dan Esok.Gema Insani Press, Jakarta : 1993, hlm 49.
Rahman. Ahli-ahli fikih lainnya yaitu Abu Bakr ibn al-Quthiyah, Munzir ibn Sa’id al-Baluthi dan Ibn Hazm yang terkenal.
[1] Sedillot
berkata, “Mazhab Maliki itulah yang secara khusus memikat pandangan
kita karena hubungan kita dengan bangsa Arab Afrika. Pada waktu itu
pemerintah Prancis menugaskan Dr. Peron untuk menerjemahkan buku Fiqh Al
Mukhtashar karya Al Khalik bin Ishaq bin Ya’qub (w. 1422 M).
[2] a) Musik dan Kesenian Dalam
bidang musik dan seni suara, Spanyol Islam mencapai kecemerlangan
dengan tokohnya al-Hasan ibn Nafi yang dijuluki Zaryab. Setiap kali
diadakan pertemuan dan jamuan, Zaryab selalu tampil mempertunjukkan
kebolehannya. Ia juga terkenal sebagai pengubah lagu. Ilmu yang
dimilikinya itu diturunkan kepada anak-anaknya baik pria maupun wanita,
dan juga kepada budak-budak, sehingga kemasyhurannya tersebar luas.
b) Bahasa dan Sastra Bahasa
Arab telah menjadi bahasa administrasi dalam pemerintahan Islam di
Spanyol. Diantara para ahli yang mahir dalam bahasa Arab, baik
keterampilan berbicara maupun tata bahasa yaitu Ibn Sayyidih, Ibn malik
pengarang Alfiyah, Ibn Huruf, Ibn Al-Hajj, Abu Ali al-Isybili, Abu
al-Hasan Ibn Usfur, dan Abu Hayyan al-Gharnathi.
· Kemegahan Pembangunan Fisik Orang-orang
memperkenalkan pengaturan hidrolik untuk tujuan irigasi. Kalau dam
digunakan untuk mengecek curah air waduk dibuat untuk konservasi.
Pengaturan hydrolik itu dibangun dengan memperkenalkan roda air asal
Persia yang dinamakan na’urah (Spanyol Noria). Namun pembangunan fisik
yang paling menonjol adalah pembangunan gedung-gedung, seperti
pembangunan kota, istana, masjid, pemukiman, taman-taman. Di antara
pembangunan yang megah adalah masjid Cordova, kota al-Zahra, Istana
Ja’fariyah di Saragosa, tembok Toledo, istana al-Makmun, mesjid Seville
dan istana al-Hamra di Granada.
· Faktor-faktor Pendukung Kemajuan Spanyol
Islam, kemajuannya sangat ditentukan oleh adanya penguasa-penguasa yang
kuat dan berwibawa, yang mampu mempersatukan kekuatan-kekuatan umat
Islam, seperti Abd al-Rahman al-Dakhil, Abd al-Rahman al-Wasith dan Abd
al-Rahman al-Nashir.
Keberhasilan politik
pemimpin-pemimpin tersebut ditunjang oleh kebijaksanaan
penguasa-penguasa lainnya yang memelopori kegiatan-kegiatan ilmiah dan
adanya toleransi yang ditegakkan oleh penguasa terhadap penganut agama
Kristen dan Yahudi.
B. Penyebab Kemunduran Dan Kehancuran § Konflik Islam dengan Kristen
§ Tidak adanya Ideologi Pemersatu
§ Kesulitan Ekonomi
§ Tidak Jelasnya Sistem Peralihan Kekuasaan
§ Keterpencilan.
[3] Namun ada faktor lain yang menyebabkan kemunduran kebudayaan islam yaitu:
§ Kelemahan dibidang politik
§ Munculnya orang-orang Moghul
§ Munculnya unsur Turki
§ Ditemukannya Mesiu.
[4] [1] Dr.Badri Yatim, M.A, Sejarah Peradaban Islam, PT: Gravindo Persada : 2003, hlm 103
[2] Dr.Mustafa As-Siba’i,Peradaban Islam Dulu, Kini dan Esok.Gema Insani Press, Jakarta : 1993, hlm 55
[3] Dr.Badri Yatim, M.A, Sejarah Peradaban Islam, PT: Gravindo Persada : 2003, hlm 108
A.
Pengaruh Peradaban Spanyol Islam Di Eropa
Spanyol merupakan tempat yang paling
utama bagi Eropa menyerap peradaban Islam, baik dalam bentuk hubungan
politik, sosial, maupun perekonomian dan peradaban antarnegara.
Orang-orang Eropa menyaksikan kenyataan bahwa Spanyol berada di bawah
kekuasaan Islam jauh meninggalkan negara-negara tetangga Eropa, terutama
dalam bidang pemikiran dan sains di samping bangunan fisik.
Berawal dari gerakan Averroeisme inilah di Eropa kemudian lahir reformasi pada abad ke-16 M dan rasionalisme pada abad ke-17 M.
Pengaruh
ilmu pengetahuan Islam atas Eropa yang sudah berlangsung sejak abad
ke-12 M itu menimbulkan gerakan kebangkitan kembali (renaissance) pusaka
Yunani di Eropa pada abad ke-14 M.
Walaupun
Islam akhirnya terusir dari negeri Spanyol dengan cara yang sangat
kejam, tetapi ia telah membidani gerakan-gerakan penting di Eropa.
Gerakan-gerakan itu adalah kebangkitan kembali kebudayaan Yunani klasik
(renaissance) pada abad ke-14 M yang bermula di Italia, gerakan
reformasi pada abad ke-16 M, rasionalisme pada abad ke-17 M, dan
pencerahan (aufklaerung) pada abad ke-18 M.
BAB III
KESIMPULAN
Islam
pertama kali masuk ke Spanyol pada tahun 711 M melalui jalur Afrika
Utara. Wilayah Andalusia yang sekarang disebut dengan Spanyol diujung
selatan benua Eropa, masuk kedalam kekuasaan dinasti bani Umayah
semenjak Tariq bin Ziyad, bawahan Musa bin Nushair gubernur Qairuwan,
mengalahkan pasukan Spanyol pimpinan Roderik Raja bangsa Gothia (92 H/
711 M). Spanyol diduduki umat islam pada zaman kholifah Al-Walid
(705-715), salah seorang khalifah dari Bani Umayah yang berpusat di
Damaskus.
Perkembangan
Islam di Spanyol berlangsung lebih dari tujuh setengah abad.
Perkembangan itu dibagi menjadi enam periode yaitu: Periode Pertama
(711-755 M), Periode Kedua (755-912 M), Periode Ketiga (912-1013 M),
Periode Keempat (1013-1086 M), Periode Kelima (1086-1248 M), dan Periode
Keenam (1248-1492 M).
Kemajuan peradaban itu
dipengaruhi oleh kemajuan intelektual yang di dalamnya terdapat ilmu
filsafat, sains, fikih, musik dan kesenian, begitu juga dengan bahasa
dan sastra, dan kemegahan pembangunan fisik.
Faktor-faktor
pendukung kemajuan Spanyol Islam, diantaranya kemajuannya sangat
ditentukan oleh adanya penguasa-penguasa yang kuat dan berwibawa, yang
mampu mempersatukan kekuatan-kekuatan umat Islam, seperti Abd al-Rahman
al-Dakhil, Abd al-Rahman al-Wasith dan Abd al-Rahman al-Nashir.
Keberhasilan
politik pemimpin-pemimpin tersebut ditunjang oleh kebijaksanaan
penguasa-penguasa lainnya yang memelopori kegiatan-kegiatan ilmiah dan
adanya toleransi yang ditegakkan oleh penguasa terhadap penganut agama
Kristen dan Yahudi.
kemunduran dan kehancuran
Islam di Spanyol antara lain, konflik Islam dengan Kristen,tidak adanya
Ideologi pemersatu, kesulitan ekonomi, tidak jelasnya sistem peralihan
kekuasaan keterpencilan.
DAFTAR PUSTAKA
Dr. As-Siba’i Mustafa, Peradaban Islam Dulu, Kini dan
Esok. Gema Insani Press, Jakarta : 1993
Dr. Yatim Badri, M.A, Sejarah Peradaban Islam, PT:
Gravindo Persada : 2003
Katalog Dalam Terbitan (KDT), Ensiklopedi Mini Sejarah
dan Kebuidayaan Islam, Logos Wacana Ilmu Jakarta 1996
Majid Mun’im Abdul, Sejarah Kebudayaan Islam,
Pustaka : 1997
Perpustakaan Nasional : Katalog Dalam Terbitan (KDT), Ensiklopedi
Mini Sejarah dan Kebudayaan Islam, Logos Wacana Ilmu, Jakarta 1996.
Prof. Dr. Hj. Sunanto Musyrifah, Sejarah Islam Klasik,
Jakarta Timur, Penada Media: 2003